Sabtu, 30 April 2011

Berpartai Itu Harus Ikhlas dan Loyal

Sekjen PAN: Berpartai Itu Harus Ikhlas dan Loyal
Adi Lazuardi - detikNews

<p>Your browser does not support iframes.</p>
Sekjen PAN: Berpartai Itu Harus Ikhlas dan Loyal

"Kita berpartai dasarnya itu keikhlasan. Sungguh pun sudah ikhlas, ada grade berikutnya: loyalitas. Dasarnya itu keikhlasan, kedua itu loyalitas, ketiga itu aspek fungsi kepentingan kepada rakyat," kata Taufik usai acara Pelantikan Pengurus DPP Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Sabtu (30/4/2011).

Menurut Taufik, politisi yang mudah terpengaruh oleh kondisi-kondisi yang ada dalam dunia politik akan sulit memberi manfaat untuk rakyatnya.

"Kalau dalam grade pertama dia sudah nggak lolos, ya, masyarakat yang menilai. Bagaimana dia bisa menaruh loyal kalau mudah terbawa angin ke sana kemari. Bagaimana bisa bermanfaat untuk rakyat kalau dia tidak bisa istiqomah kepada dirinya sendiri," katanya.

Taufik juga menambahkan, sebenarnya semua partai itu baik selama tujuannya untuk menyejahterakan rakyat. Sementara hubungannya dengan rakyat adalah tergantung dari kinerja partai itu sendiri.

"Artinya seluruh partai itu baik, partai yang memenuhi klausul UU Kepartaian itu baik sepanjang kita berlomba-lomba untuk fastabihul khairat untuk kepentingan rakyat. Kalau mempengaruhi masyarakat itu tergantung masing-masing partai," kata Wakil Ketua DPR Bidang Kesejahteraan Rakyat ini.


(irw/irw)

Senin, 25 April 2011

Politik Uang, Biang Kerok Jebloknya Suara PAN

Solo, CyberNews. Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menilai turunnya jumlah suara partainya akhir-akhir dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Di antara faktor yang paling krusial adalah lembeknya semangat kader untuk meningkatkan perolehan suara.

Namun, fakta yang paling berpengaruh atas penurunan jumlah suara adalah suburnya praktik politik uang di tubuh partai. Saat memberikan sambutan dalam pembukaan Musda III PAN Surakarta dui Hotel Agas, Minggu (24/4). Amien memaparkan, praktik politik uang yang paling kentara terjadi di Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Di dua wilayah itu, penurunan suara anjlog secara signifikan. Dikatakannya, kursi PAN di DPR RI dari 53 kursi turun menjadi 46 kursi. PAN di Jabar khususnya di Bandung yang pada saat reformasi mencapai 8 kursi, kini tinggal 1 kursi, dan di DKI tinggal 4.

"PAN telah mengalami kebangkrutan Apa sebabnya DKI, dan Jabar terjun bebas. Ketika muswil yang menang menyuap sana-sini dengan fulus (uang), dan Allah ternyata tidak ridho," kata Amien yang saat itu didampingi Sekjen PAN Taufik Kurniawan dan anggota DPR RI Muhammad Hatta dan Wali Kota Solo Joko Widodo.

Dimanapun lanjut dia, Amien sebagai sesepuh PAN selalu mengingatkan, kejadian di Jabar dan DKI tidak terjadi lagi, apalagi di Solo. "Kalau masih cinta PAN, yang membagi-bagikan duit uang diambil tapi jangan dipilih. Saya sebagai ketum, MPR, uang itu bisa merusak. Karena lembaran merah kantongi, tidak dipikirkan tetapi rekosone. Tolong, mbah amien menyampaikan ini," katanya.

Dengan mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, Amin mengatakan, barang siapa masa depannya sama dibandingkan masa kininya termasuk rugi, karena diberi rejeki dan kesehatan malah tidak maju. Tetapi kalau masa depan lebih buruk dari masa kini masa dibilang bangkrut.

( Budi Sarmun S / CN27 / JBSM )

Minggu, 24 April 2011

MEMBERANTAS KUTU LONCAT



Kutu Loncat Serbu Demokrat (5)
Rocky Gerung: Kutu Loncat Lebih Buruk dari Debt Collector
M. Rizal - detikNews



"Ini lebih berbahaya dari penipu. Waktu Pemilu, dia meminta suara dan dukungan dari masyarakat, tapi sudah selesai pemilu, suara itu justru dilimpahkan ke partai politik lainnya. Ini lebih tidak sopan, dan ini lebih buruk dari debt collector," kata Rocky.

Pengajar Filsafat di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (UI) ini juga menganalogikan politisi kutu loncat ini sebagai pencuri yang telah menyerahkan barang curian, yaitu suara rakyat kepada penadah, yaitu partai politik barunya yang menerima politisi bersangkutan.

"Orang yang melakukan dan menjadi kutu loncat dan yang menerima atau kandang kutu loncat telah memberikan pelajaran yang buruk kepada publik. Karena, dua-duanya menikmati hal yang haram, kalau menggunakan tata bahasa agama," imbuhnya.

Belum lama ini sejumlah politisi meloncat dari partai lamanya ke Partai Demokrat. Mereka antara lain mantan Ketua DPD Golkar Ilham Arif Sirajudin, Gubernur NTB Zainul Majdi, yang juga kader Partai Bulan Bintang. Kemudian menyusul Yusuf Macan Effendi atau lebih dikenal dengan Dede Yusuf, dari PAN juga ikut berlabuh ke PD.

Berikut wawancara M Rizal dari detikcom dengan Rocky Gerung, Kamis (21/4/2011) pagi:

Bagaimana anda melihat fenomena politisi pindah partai politik, kenapa 'kutu loncat' ini selalu terjadi dalam perpolitikan di Indonesia?

Begini, menurut saya secara logika biasa saja, misalnya anda menerima uang dari saya karena ada suatu kebutuhan tertentu. Saya kasih uang itu, tapi ternyata uang itu anda bayarkan untuk debt collector. Artinya sudah curang dan culas pula.

Ini artinya ini lebih berbahaya dari penipu. Waktu pemilihan umum (Pemilu), dia meminta suara dan dukungan dari masyarakat (atas nama partai sebelumnya), tapi sudah selesai pemilu, suara itu justru dilimpahkan ke partai politik lainnya. Ini lebih tidak sopan, dan ini lebih buruk dari debt collector.

Kalau dia mau fair dan adil, dia seharusnya memberitahukan sebelumnya kepada konstituen dan meminta maaf, misalnya mengatakan maaf uang yang anda pinjamkan dulu tidak dipakai untuk membeli obat, tapi untuk kebutuhan lain dahulu. Ini akan bisa lebih dipertanggungjawabkan, tapi ini kan tidak terjadi.

Kalau ditanya apa motif para 'Kutu Loncat' ini, motifnya jelas adalah dia mencari keuntungan yang besar. Misalnya karena dia akan mendapatkan jaminan tertentu, entah itu persoalan hukum dan politis lainnya, seperti ingin mendapatkan peluang dipilih lagi dalam pemilu berikutnya. Apalagi Partai Demokrat, misalnya lebih populer.

Melihat tingkah politisi seperti ini, tentunya tanggung jawabnya sebagai warga negara di mana dia harus mempertanggungjawabkan kepada masyarakat nol besar. Kan kita melihat ini sebetulnya, orang pindah dari Partai A ke Partai B seperti itu motifnya seperti kutu loncat.

Seharusnya partai politik yang menerimanya harus curiga. Boleh jadi dia telah menyogok partai barunya itu, itu seharusnya ditolak oleh partai itu sendiri. Misalnya pindah ke PD atau PDIP, lalu pindah lagi ke partai lain, itu seharusnya tidak boleh terjadi. Okelah itu dikatakan demokratis, tapi demokratis harus berjalan sesuai dengan akal sehat.

Politisi kutu loncat ini apakah khas di Indonesia saja, atau terjadi di negara lainya? Apa bedanya?

Kalau di luar negeri saya kira, tingkat kewaspadaan publiknya sudah cukup tinggi. Kewaspadaan publik dari awal sudah dikemukakan bahwa seharusnya orang yang menjadi kutu loncat itu tidak dapat dukungan publik dan dukungan sosial. Karena itu akan mendapatkan sanksi sosial.

Sifat hiprokit dan penuh kemunafikan itu di dalam partai politik tidak akan punya hak politik dalam kepartaian, karena tidak bisa dipercayai. Artinya, di Indonesia partai politik itu tidak mendidik menjadi sebuah organisasi kepartaian, tapi bersifat seperti outsourching saja. Ini tentu ada sesuatu yang salah besar di dalam dunia kepartaian politik kita.

Fenomena kutu loncat ini terjadi karena sistem politik yang buruk atau faktor individu yang terobsesi kekuasaan?

Sebenarnya kalau dia memahami tentang sistem kewarganegaraan dan politik yang baik, dia akan selalu menghormati konstituennya dan menyerahkan sepenuhnya kepada konstituennya juga. Begitu juga dia akan meminta maaf bila tidak bisa lagi mempertanggungjawabkan mandatnya selama ini agar publik juga tidak dirugikan. Ini kan akan lebih fair, walau pun dia sudah lebih lima tahun di sana.

Jangan sampai publik mempertanyakan kepadanya, anda sudah ngemis-ngemis suara rakyat, tapi mengabaikan rakyat sendiri, ya itu harus dipertanggungjawabkan. Kalau sudah begini, apalagi kalau bukan memang obsesi kekuasaan dia kalau berpindah-pindah seperti itu dengan mengabaikan rakyat.

Tapi SBY dan Partai Demokrat seperti menikmati fenomena kutu loncat ini?

Ya dua-duanya. Orang yang melakukan dan menjadi kutu loncat dan yang menerima atau kandang kutu loncat telah memberikan pelajaran yang buruk kepada publik. Karena, dua-duanya menikmati hal yang haram, kalau menggunakan tata bahasa agama. Analoginya, para pencuri ini telah menyerahkan barang curiannya kepada penadah. Sama saja partai politik baru bagi para kutu loncat ini disebut sebagai penadah. Mereka tidak akan berpikir panjang lagi ke depannya.

Namanya juga penadah, dia hanya ingin mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek saja, tidak lagi memikirkan tentang pendalaman pendidikan politik kepada partai politik dan masyarakatnya. Dia (parpol) seperti broker politik, yang sebenarnya tidak cocok jadi sebuah organisasi partai politik. Dia tidak ada ketulusan dan kecerdasan untuk merawat demokrasi dan tidak memelihara apa yang menjadi harapan masyarakatnya.

Adakah solusi mengatasi persoalan pragmatisme para politisi ini?

Di dalam demokrasi memang ada aturan hukum, tapi juga berjalan di atas kebiasaan-kebiasaan. Oleh karena itu, ini yang harus dipelihara setiap periode lima tahunan dan itu dasarnya atas kepercayaan. Misalnya, kepercayaan saya memberikan kredit kepada anda, tapi diselewengkan untuk kepentingan lain, artinya sebagai nasabah anda bukan nasabah yang baik, itu seperti di dunia perbankan.

Jadi ini soal mental politik para politisi kita yang buruk. Kalau saya diposisi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, misalnya, saya akan tolak orang-orang seperti itu masuk ke PD. Sebab, orang seperti itu tidak memberikan tata politik yang baik juga buat masyarakat. Pak SBY harus memberikan pelajaran yang baik kepada rakyat. Tapi ini kan jauh panggang dari api.

Sanksi apa yang seharusnya diberikan kepada kutu loncat itu?

Tentunya ya sanksi sosial. Sanksi ini jangan terlambat lagi sampai lima tahun lagi. Tapi sanksi sosial ini seharusnya juga diberikan partai politik juga, seharusnya partai politik itu juga menolak menerima mereka, dari para kutu loncat dan ulat bulu.

Secara umum mereka telah membohongi publik. Mereka akan selalu melihat rumput di sebelah rumah atau rumah tetangga itu lebih hijau. Orang-orang seperti ini tentunya tidak memiliki etika dan tidak punya tanggung jawab serta mental yang baik. Seharusnya mereka tidak boleh menjadi politisi. Karena menjadi seorang politisi itu, seharusnya dia paham dan mengerti betul serta harus mengorbankan kepentingannya untuk kepentingan publik dan masyarakat. Itu saja.

(zal/iy)

Inilah Dua Langkah PAN Agar Kadernya Tak Loncat Partai


Bima Arya. TEMPO/Nita Dian


TEMPO Interaktif, Jakarta - Bima Arya Sugiarto, Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai Amanat Nasional (PAN), menyatakan maraknya upaya pembajakan kader partainya oleh partai lain harus disikapi serius. "Harus ada upaya konkret untuk mencegahnya," ujarnya di Jakarta, Rabu (20/4).


Menurut Bima, ada 2 hal yang akan dilakukan partainya untuk mencegah berulangnya pembajakan kader partainya. Pertama, secara internal akan melakukan inovasi dalam hal kontrak politik dengan kepala daerah yang diusung PAN. "Mereka harus jelas committed menjalankan amanat partai sampai akhir," ujarnya. Kedua, membenahi kaderisasi serta rekrutmen kader partai yang lebih militan, sehingga anggapan PAN partai yang menggantungkan pada sosok ketokohan tertentu tidak berlaku di partai ini. "Esa hilang dua terbilang, patah satu tumbuh seribu," kata Bima lagi. Bima yakin partainya tak berpengaruh dengan mundurnya beberapa kader terbaiknya. Sebab, partainya memiliki pengalaman panjang dalam membangun sistem dan kultur dengan tidak menggantungkan pada sosok ketokohan semata. "Kaderisasi dari Pak Amien (Rais), Mas Tris (Sutrisno Bachir), kemudian Bang Hatta (Rajasa) itu sukses," ujarnya. "Kami ingin memindahkan pengaderan itu tidak hanya di level nasional, tapi hingga ke level lokal."

Sebelumnya, kader PAN Jawa Barat Dede Yusuf yang juga Wakil Gubernur Jawa Barat menyatakan mundur dari PAN sejak Jumat akhir pekan lalu. Beredar kabar Dede Yusuf meloncat ke Partai Demokrat sebagai partai pendulang suara terbanyak di Jawa Barat pada pemilihan legislatif 2009. Dede Yusuf pindah partai karena ingin mewujudkan ambisinya menjadi gubernur Jawa Barat pada pemilihan 2012 mendatang. "Ini bukan hal yang luar biasa," ujar Bima.